Komisi Uni Eropa tengah mencari kantor yang lebih besar di Nuuk, ibu kota Greenland, setelah meluncurkan paket investasi baru senilai 200 juta euro untuk wilayah otonom tersebut. Langkah ini diambil seiring keputusan Amerika Serikat yang juga memindahkan kantor konsulatnya di Nuuk ke bangunan yang lebih besar.

Uni Eropa berupaya memperluas kehadirannya di Greenland dengan menambah jumlah staf dan meningkatkan dukungan terhadap pemerintah lokal, khususnya dalam mengelola dana Uni Eropa untuk berbagai proyek serta menjalankan proses administratif yang terkait.

Berbeda dengan pola sebelumnya, dana tidak akan langsung dialokasikan ke anggaran Greenland, melainkan difokuskan pada proyek-proyek spesifik seperti pengembangan perumahan, infrastruktur energi, dan pusat data. Uni Eropa merencanakan distribusi dana tersebut hingga tahun 2028.

Selain Uni Eropa, tahun ini Prancis dan Kanada juga telah membuka kantor diplomatik di Greenland, wilayah berpenduduk sekitar 56 ribu jiwa yang berada di bawah kedaulatan Denmark. Uni Eropa kini kian menegaskan posisi strategisnya di kawasan Arktik, dengan prioritas pada kerja sama di bidang keamanan serta pengelolaan bahan baku penting. Greenland menjadi arena persaingan kepentingan internasional, tidak lepas dari pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang pernah mengusulkan agar Greenland berada di bawah kendali AS, sehingga memicu dinamika geopolitik antara Washington, Brussel, Kopenhagen, dan pemerintah Greenland.