Sebuah survei global yang dilakukan oleh Pew Research Center menunjukkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar tenaga kerja. Survei yang melibatkan 37 negara ini mengungkapkan bahwa mayoritas responden percaya kecerdasan buatan tidak akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja, melainkan justru mengurangi jumlah pekerjaan yang ada di masa mendatang.
Kekhawatiran tersebut paling besar dirasakan oleh masyarakat Yunani. Data menunjukkan, 68 persen responden di Yunani mengkhawatirkan penurunan kesempatan kerja akibat penggunaan kecerdasan buatan, sementara 15 persen lainnya tidak memperkirakan adanya perubahan signifikan di dunia kerja. Hanya 4 persen yang optimis bahwa kecerdasan buatan akan menghadirkan lebih banyak peluang kerja, dan 13 persen sisanya tidak memiliki pendapat atau merasa ragu.
Penelitian ini juga menyebutkan bahwa negara-negara berpenghasilan tinggi cenderung memiliki tingkat kekhawatiran yang lebih besar terhadap dampak AI pada dunia kerja. Di Australia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat, sekitar satu dari tujuh responden memperkirakan berkurangnya lapangan kerja dalam dua dekade mendatang akibat perkembangan teknologi ini. Survei digelar dari 8 Februari hingga 13 Mei 2026, melibatkan 42.151 orang dari 36 negara, dengan tambahan data dari dua kajian berbeda di Amerika Serikat.
