Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat meningkatkan layanan kesehatan, namun kehadiran dokter tetap tidak dapat digantikan oleh teknologi tersebut. Pernyataan ini disampaikan von der Leyen dalam pidato mengenai Situasi Uni Eropa di Parlemen Eropa.
Von der Leyen menegaskan, ia mendukung pemanfaatan kecerdasan buatan untuk membantu proses diagnosis dan pengambilan keputusan medis bagi pasien. Namun, ia menolak jika keputusan diagnosis kanker sepenuhnya dilakukan oleh sebuah robot.
Lebih lanjut, von der Leyen mengungkapkan, teknologi pemeriksaan mamografi berbasis kecerdasan buatan dapat mendeteksi lebih banyak kasus kanker pada tahap awal dan berpotensi menyelamatkan lebih banyak nyawa perempuan. Teknologi digital ini juga dinilai telah memberikan kemajuan dalam proses diagnosis, pengembangan obat, serta mengurangi beban kerja tenaga kesehatan.
Komisaris Kesehatan Olivér Várhelyi menyampaikan bahwa sektor kesehatan menjadi satu dari lima bidang prioritas dalam rencana percepatan pengembangan kecerdasan buatan industri di Eropa.
Para pakar menyoroti adanya isu terkait perlindungan data biologis, tanggung jawab hukum, investasi sumber daya manusia, hingga risiko eksklusi akibat pemanfaatan AI di sektor kesehatan. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan hanya sekitar 8 persen negara anggota yang telah memiliki strategi nasional AI khusus bidang kesehatan.
Von der Leyen menambahkan, pada bulan November mendatang, Komisi Eropa berencana meluncurkan inisiatif kecerdasan buatan terbaru untuk lima bidang, yakni kesehatan, transportasi, pertanian-pangan, manufaktur maju, dan pertahanan serta antariksa.
