Fenomena suhu panas, kekeringan, dan badai yang melanda Belgia selama musim panas ini berdampak signifikan pada ukuran dan penampilan buah serta sayuran. Beberapa komoditas seperti apel, pir, dan labu diketahui tumbuh dengan ukuran lebih kecil, bercak-bercak, atau tidak berbentuk sempurna. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa mutu konsumsi buah dan sayuran tersebut tetap aman.

Di toko koperasi Paysans-Artisans yang berlokasi di Namur, produk dijual tanpa klasifikasi ukuran standar. Para petani memasarkan hasil panen dengan berbagai ukuran, mulai dari kecil, sedang, hingga besar, sesuai kondisi musim. Konsumen pun menyatakan perbedaan bentuk tersebut tidak memengaruhi cita rasa.

Perwakilan dari Produsen Kolegi, Mathilde Eck, menyebutkan bahwa suhu panas dan kekeringan membuat petani semakin sulit memenuhi permintaan ukuran standar yang diharuskan oleh jaringan supermarket besar.

Badai yang terjadi pada bulan Mei dan Juni mengakibatkan keterlambatan penanaman, kerusakan lahan, serta aliran lumpur yang menyeret area pertanian. Tahun ini, sebanyak 30-35 persen buah pir yang dihasilkan berukuran di bawah 55 milimeter, padahal biasanya hanya sekitar 10 persen. Untuk buah apel, proporsi hasil panen berukuran kecil mencapai 50 persen. Para ahli mendorong konsumen menerima variasi ukuran dan bentuk alami yang dihasilkan oleh alam. Produk dengan penampilan di luar standar umumnya dipasarkan dengan harga lebih terjangkau.