Gelombang panas yang melanda Belgia pada akhir Juni 2026 menyebabkan angka kematian melebihi yang diperkirakan oleh lembaga kesehatan negara itu, Sciensano. Berdasarkan analisis yang dirilis pada Rabu, tercatat 2.112 kematian lebih banyak dari biasanya antara 18 Juni hingga 12 Juli 2026. Angka kematian berlebih sebesar 31 persen ini menjadi yang tertinggi sejak tahun 2000, dibandingkan dengan gelombang panas besar yang pernah terjadi sebelumnya.
Jika sebelumnya kematian akibat suhu ekstrem lebih banyak terjadi pada perempuan lanjut usia, kali ini gelombang panas memberikan dampak lebih luas. Kematian tercatat tidak hanya meningkat pada pria lansia, tetapi juga pada laki-laki usia produktif. Selain itu, dampak terbesar dirasakan di wilayah Valon, terutama di area Liège yang mengalami lonjakan kematian paling signifikan.
Model prediksi yang dikembangkan Sciensano, yang memperhitungkan faktor risiko seperti suhu malam hari dan kondisi lingkungan, justru tidak mampu mengimbangi lonjakan kematian nyata, khususnya pada puncak kematian tanggal 27 dan 28 Juni. Koen Blot, Kepala Epidemiologi Penyakit Menular Sciensano, menyatakan bahwa kondisi kesehatan maupun faktor sosial ekonomi diduga berperan, meski masih sebatas hipotesis.
Menteri Kesehatan Belgia, Frank Vandenbroucke, menilai Rencana Panas dan Ozon yang berlaku saat ini belum memadai untuk menghadapi situasi serupa di kemudian hari. Pemerintah berencana menyiapkan Rencana Tanggap Darurat Terpadu antar lembaga federal sebelum musim panas tahun 2027.
