Anggota Parlemen Eropa sekaligus pakar hukum persaingan usaha, Stephanie Yon-Courtin, melayangkan kritik tajam kepada Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen. Kritik tersebut terkait sikap von der Leyen yang secara terbuka memberikan dukungan kepada inisiatif bersama antariksa Eropa, meskipun proses peninjauan kompetisi proyek tersebut masih berjalan.

Menurut laporan Politico, Yon-Courtin menyoroti dukungan politik Presiden Komisi Eropa terhadap Project Bromo, kemitraan yang melibatkan Airbus, Leonardo, dan Thales. Ia menilai hal tersebut sebagai bentuk penyalahgunaan wewenang. Yon-Courtin menegaskan, dukungan pada level politik untuk proyek yang masih dalam proses investigasi oleh otoritas persaingan usaha Komisi Eropa dapat merusak independensi penilaian yang tengah berlangsung.

"Jika Presiden Komisi memberikan keputusan sepihak mengenai suatu kasus, lalu apa fungsi Komisioner Persaingan Usaha, Teresa Ribera, dan Direktorat Jenderal Persaingan Usaha?" ujar Yon-Courtin mempertanyakan.

Sesuai aturan Uni Eropa, Komisi Eropa diwajibkan meninjau apakah penggabungan usaha atau kerja sama besar seperti Project Bromo berpotensi mengurangi persaingan, serta dampaknya terhadap konsumen dan inovasi.

Di tengah ketegangan geopolitik dan ketergantungan pada sistem satelit berbasis Amerika Serikat, teknologi antariksa kini dipandang sebagai unsur penting dalam keamanan, pertahanan, dan kemandirian strategis Eropa. Ursula von der Leyen sebelumnya pada KTT Antariksa Internasional di Paris, 10 September lalu, menyebut Project Bromo sebagai salah satu "juara industri" yang dibutuhkan Eropa untuk memimpin di ekonomi antariksa global. Proyek ini dirancang guna memperkuat keberadaan Eropa di bidang satelit, terutama dalam menghadapi dominasi jaringan Starlink milik SpaceX, sekaligus meningkatkan kapasitas komunikasi satelit yang aman di kawasan.