Ketegangan di kawasan Timur Tengah berdampak pada melonjaknya harga minyak dan gas alam dunia. Harga minyak mentah Brent dari Laut Utara pada Kamis tercatat menembus 105,72 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah jenis West Texas Intermediate di Amerika Serikat menyentuh level 100,39 dolar AS per barel. Pada Rabu sebelumnya, harga minyak untuk pertama kalinya sejak 24 Juli kembali menembus angka 100 dolar AS per barel.

Di Yaman, kota pelabuhan Mokha yang berada di pesisir Laut Merah dilaporkan telah dikuasai oleh kelompok Houthi. Kelompok ini dilaporkan bergerak menuju Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah, Teluk Aden, dan Samudra Hindia. Penguasaan Bab el-Mandeb—selain Selat Hormuz—dianggap strategis karena merupakan jalur penting bagi perdagangan global serta pengiriman minyak mentah dan gas alam cair. Dengan jatuhnya wilayah ini ke tangan Houthi, risiko terganggunya pelayaran internasional kian meningkat. Pemerintah Arab Saudi juga menyatakan bahwa produksi minyak di negara tersebut dalam satu bulan terakhir turun ke level terendah sejak 1990.

Sementara itu, harga gas alam di pasar Eropa juga terus menunjukkan tren kenaikan. Di pasar berjangka TTF Amsterdam, harga gas alam per megawatt jam naik sekitar 2,5 persen menjadi 81,50 euro, yang merupakan level tertinggi sejak akhir 2022. Lonjakan harga lebih dari dua kali lipat sejak eskalasi konflik di Timur Tengah menambah beban baru bagi Eropa. Proses pengisian cadangan gas untuk persiapan musim dingin menghadapi kendala akibat ketidakpastian konflik dan ekspektasi harga yang kembali turun. Kapasitas penyimpanan gas di Eropa rata-rata kini berada di angka 67 persen, sementara di Jerman tercatat sekitar 55 persen.