Krisis iklim yang terjadi di Yunani semakin memperburuk tekanan terhadap sumber daya air serta mengungkap kerentanan struktur ekonomi yang saling berkaitan lintas sektor. Sebuah penelitian yang melibatkan para ahli dari Leibniz Center for Agricultural Landscape Research, Universitas Tesalya, dan sejumlah lembaga internasional menunjukkan bahwa keterkaitan antara air, energi, pangan, dan ekosistem (WEFE) dapat memicu efek domino jika terjadi krisis.
Dalam skenario kenaikan tarif air dan ketersediaan air yang menurun hingga 10 persen, aktivitas pertanian diperkirakan terkontraksi sebesar 9,8 persen, sektor peternakan berkurang 10,36 persen, sedangkan industri pengolahan pangan menurun 11,58 persen. Secara keseluruhan, aktivitas di sektor air diperkirakan turun hingga 16,6 persen. Selain itu, pendapatan rumah tangga yang bisa digunakan berkurang 6,5 persen, pengeluaran turun 12,7 persen, dan indikator kesejahteraan masyarakat turun 13,1 persen. Indeks keberlanjutan WEFE juga dilaporkan turun 5,3 persen.
Penelitian tersebut menyoroti wilayah Tesalya dan dataran Karditsa yang sangat bergantung pada sumber air dan dinilai paling rentan terhadap ancaman kekeringan. Para ahli menilai, peremajaan jaringan irigasi, penerapan irigasi tetes, pemanfaatan ulang air olahan, peralihan ke komoditas yang lebih hemat air, serta penggunaan energi terbarukan untuk mendukung infrastruktur irigasi merupakan langkah-langkah yang direkomendasikan.
Studi juga menegaskan bahwa kebijakan yang hanya berfokus pada transisi energi atau proteksi perdagangan tidak akan cukup. Sebuah model manajemen terpadu yang secara simultan memantau air, energi, pangan, dan ekosistem sangat dibutuhkan untuk menghadapi situasi krisis di masa mendatang.
