Sebanyak 1,4 juta data milik pemerintah negara bagian Berlin, Jerman, dilaporkan dicuri dalam serangan siber yang ditujukan kepada pemerintahan setempat. Data yang bocor meliputi berkas pegawai, korespondensi resmi, slip gaji, dan hasil pemindaian dokumen identitas. Kelompok peretas bernama Rhysida yang mengklaim aksi tersebut kemudian menyebarkan data tersebut di jaringan gelap setelah tuntutan tebusan mereka tidak dipenuhi.

Kelompok Rhysida meminta tebusan sebesar 30 Bitcoin, atau setara sekitar dua juta euro, kepada pemerintah Berlin dengan imbalan penghapusan data yang dicuri. Namun, Wali Kota Berlin, Kai Wegner, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tunduk pada praktik pemerasan tersebut.

Serangan siber ini diketahui bermula pada 7-14 Agustus ketika salah satu pegawai Dinas Transportasi Berlin membuka lampiran pada surel phishing. Selain data pegawai dan warga, informasi milik fasilitas energi dan bahan bakar, sistem listrik darurat, penjara, serta fasilitas air pun diduga ikut tercuri dalam insiden tersebut. Kelompok Rhysida, yang diduga berasal dari Eropa Timur, tercatat telah mengklaim sekitar 280 serangan di berbagai belahan dunia sejak 2023.

Sebagai respons, Senat Berlin membentuk pusat koordinasi lintas instansi untuk menyelidiki insiden ini dan menjalin komunikasi dengan Badan Keamanan Informasi Federal Jerman. Pihak berwenang juga telah meminta seluruh pegawai untuk mengganti kata sandi mereka, meskipun langkah ini dinilai belum cukup oleh Serikat Polisi Berlin. Para pejabat memastikan bantuan akan diberikan bagi para pegawai serta masyarakat yang terdampak. Sementara itu, Komisi Pemilihan Negara Bagian menegaskan bahwa pelaksanaan pemilihan anggota Parlemen Berlin pada 20 September akan berlangsung sesuai jadwal dan tidak terdampak oleh insiden ini.