Ketua Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menegaskan bahwa penguatan solidaritas Uni Eropa dalam menghadapi segala bentuk krisis akan menjadi salah satu tema utama dalam pidatonya mengenai Kondisi Uni Eropa yang dijadwalkan pada 16 September mendatang di Strasbourg. Pernyataan ini disampaikan von der Leyen saat berkunjung ke Pusat Krisis Eropa bersama Komisioner Urusan Manajemen Krisis, Hadja Lahbib, pada Senin.

Von der Leyen menyoroti bahwa kegiatan sehari-hari di Pusat Koordinasi Respons Darurat Eropa merupakan contoh nyata penerapan solidaritas Eropa. Ia menyatakan bahwa berbagai ancaman seperti kebakaran hutan, gempa bumi, banjir, situasi darurat kesehatan, hingga serangan hibrida kini semakin sering terjadi serta menjadi lebih kompleks dan berat. Menurutnya, perubahan iklim global turut memperparah ketidakstabilan tersebut. Musim kebakaran tahun ini, misalnya, sudah dimulai jauh lebih awal sejak akhir April, dengan kawasan utara seperti Belanda, Belgia, dan Jerman turut terdampak. Area yang terbakar dilaporkan telah melampaui 600 ribu hektare, sementara negara-negara anggota yang terdampak parah telah mengaktifkan Mekanisme Perlindungan Sipil Eropa hingga sepuluh kali.

Komisioner Hadja Lahbib juga mengingatkan pentingnya memperkuat solidaritas Eropa mengingat kebutuhan yang semakin meningkat. Komisi Eropa mengusulkan agar sekitar 11 miliar euro dialokasikan bagi Mekanisme Perlindungan Sipil dan penanganan darurat kesehatan dalam anggaran jangka panjang Uni Eropa untuk periode 2028-2034. Namun, nilai pasti yang akan disepakati masih menunggu hasil perundingan antarnegara anggota. Von der Leyen menilai kunjungannya ke Pusat Krisis Eropa merupakan bagian penting dalam persiapan menuju agenda politik besar tersebut.