Maskapai Brussels Airlines melaporkan kerugian operasional yang telah disesuaikan sebesar 70 juta euro pada semester pertama tahun ini. Angka tersebut meningkat sekitar 50 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Berdasarkan keterangan perusahaan, rencana penambahan dua unit pesawat Airbus A330 pada tahun 2027 dibatalkan, meskipun sebelumnya sempat diumumkan akan dilakukan.

Sepanjang enam bulan pertama 2023, Brussels Airlines mengoperasikan 34.200 penerbangan dan berhasil melayani 4,5 juta penumpang. Jumlah penerbangan mengalami peningkatan 8 persen, sedangkan jumlah penumpang naik 5,5 persen dibandingkan semester pertama tahun lalu. Namun, konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak menyebabkan biaya bahan bakar membengkak 64 juta euro lebih tinggi dari sebelumnya. Direktur Keuangan Nina Öwerdieck menyatakan bahwa hasil kinerja selama musim panas akan menjadi faktor penentu terhadap pencapaian keuangan perusahaan hingga akhir tahun.

Selain faktor finansial yang di bawah ekspektasi, Brussels Airlines juga menghadapi tantangan berupa aksi mogok berulang serta ketidakpastian geopolitik di Belgia. Menyikapi hal tersebut, maskapai memilih langkah yang lebih hati-hati, termasuk menghentikan sistem penyewaan pesawat wet lease pada musim panas 2027. Sementara itu, rencana modernisasi kabin untuk pesawat rute jarak jauh tetap dijalankan sesuai rencana.

Di sisi lain, induk usaha Lufthansa juga menghadapi penurunan laba akibat lonjakan biaya bahan bakar dan aksi mogok yang terjadi. Pada kuartal kedua, biaya bahan bakar meningkat 40 persen, sehingga laba bersih anjlok hingga 88 persen menjadi 123 juta euro. Namun, total pendapatan perusahaan naik sekitar 8 persen dan mencapai 11,1 miliar euro.