Ekonomi Jerman menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan mencatat pertumbuhan selama tiga kuartal berturut-turut. Namun, sejumlah perusahaan di negara tersebut dilaporkan semakin menghadapi kesulitan dalam memperoleh tenaga kerja terampil.

Menurut survei yang dilakukan Institut Penelitian Ekonomi ifo yang berbasis di Munich, sebanyak 23,2 persen responden menyatakan mengalami kekurangan tenaga kerja terampil, meningkat dari 21,1 persen pada bulan April.

Meski angka ini masih di bawah rata-rata jangka panjang sebesar 31,7 persen, pakar ifo Daria Schaller mengungkapkan bahwa perlambatan ekonomi telah membatasi tingginya permintaan pekerja terampil. Ia memperkirakan, jika tren pemulihan ekonomi terus berlanjut, kekurangan tenaga kerja terampil akan semakin terasa. "Pemulihan ekonomi yang lebih kuat dapat memperburuk kekurangan tenaga kerja terampil," ujar Schaller.

Di sektor jasa, persentase perusahaan yang kesulitan mendapatkan pekerja terampil tetap stabil di angka 25,7 persen. Di sektor telekomunikasi, angka tersebut melonjak tajam dari 16,3 persen menjadi 31,1 persen.

Sementara itu, di sektor hukum, konsultan pajak, dan audit, kekurangan tenaga kerja terampil meningkat dari 52,4 persen menjadi 64,7 persen. Di bidang industri, angka ini tercatat sebesar 18,7 persen, di industri kertas mencapai 35 persen, dan di sektor konstruksi sebanyak 32,6 persen perusahaan melaporkan kesulitan mendapatkan tenaga kerja terampil.