Sebuah studi berskala besar yang dilakukan di Italia mengungkapkan bahwa anak-anak yang mulai menggunakan media sosial pada usia dini mengalami penurunan signifikan dalam prestasi akademik mereka. Penelitian yang dilakukan oleh Marco Gui dan timnya dari Universitas Milano-Bicocca ini melibatkan 5.227 pelajar dan meneliti kebiasaan mereka dalam menggunakan media sosial serta performa di sekolah.
Studi tersebut menemukan bahwa siswa yang sudah memiliki akun di platform seperti Instagram, Facebook, atau TikTok saat duduk di kelas 6, 7, dan 8, mendapatkan hasil tes akademik yang lebih rendah dibandingkan mereka yang baru mulai aktif di media sosial pada kelas 9. Selisih hasil antara kelompok ini bahkan setara dengan kehilangan pembelajaran selama satu setengah semester bagi pengguna media sosial yang sangat awal.
Menariknya, penelitian ini tidak menemukan perbedaan signifikan dalam kinerja pelajaran bahasa Inggris antara anak-anak yang aktif di media sosial sejak dini dan mereka yang belum. Para ahli memperkirakan hal ini karena luasnya konten berbahasa Inggris di media sosial yang justru mendukung kemampuan bahasa Inggris anak dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, pada pelajaran matematika dan bahasa ibu, siswa yang mulai menggunakan media sosial di usia muda tertinggal dari rekan-rekannya. Data juga menunjukkan anak-anak ini lebih berisiko mengalami pengulangan kelas.
Peneliti menyoroti bahwa penggunaan media sosial kerap mengganggu konsentrasi dan berdampak negatif pada manajemen waktu siswa. Selain berdampak pada prestasi akademik, penggunaan media sosial sejak dini juga dinilai dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, dan tingkat kepuasan hidup anak. Hasil penelitian ini menjadi landasan ilmiah bagi wacana pembatasan usia minimum penggunaan media sosial bagi anak-anak di sejumlah negara seperti Prancis.
