Fenomena El Nino yang diperkirakan akan mencapai tingkat kuat tahun ini diprediksi membawa dampak besar terhadap perekonomian dunia. Badan Meteorologi Dunia memperkirakan suhu permukaan laut di wilayah tropis Pasifik akan mengalami kenaikan sekitar 2,9 derajat Celsius pada periode Agustus hingga Oktober, dengan puncak lonjakan suhu diperkirakan terjadi sekitar bulan November. Badan Oseanografi dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA) juga mengungkapkan peluang terjadinya El Nino dengan intensitas sangat kuat pada Oktober-Desember melebihi 90 persen, dan kemungkinan fenomena ini bertahan hingga awal musim semi 2027 mencapai 97 persen.
Sejumlah sektor penting dunia, seperti pertanian, energi, logistik, dan inflasi diprediksi terdampak signifikan akibat El Nino. Sektor pertanian dan harga pangan menjadi yang paling rentan terkena imbas perubahan iklim, mengingat perubahan pola curah hujan dapat mengganggu pasokan komoditas seperti beras, jagung, kedelai, gula, dan kakao. Bank Sentral Eropa menilai, El Nino dengan intensitas sedang rata-rata mendorong inflasi harga komoditas nyata hingga 3 persen dan meningkatkan harga komoditas global non-energi sekitar 5 persen dalam 6 sampai 12 bulan setelah fenomena terjadi. Sementara itu, El Nino yang kuat diperkirakan dapat menaikkan harga komoditas pangan hingga dua tahun ke depan dengan dampak puncak mencapai 9 persen.
Risiko tertinggi diperkirakan terjadi pada pasar gula, dengan India, Thailand, dan kawasan Asia Tenggara yang berpotensi mengalami penurunan produksi akibat lemahnya musim hujan. Hujan lebat dan banjir diprediksi akan mengganggu produksi dan suplai energi di Chili, sedangkan kekeringan di Zambia dapat berdampak pada sektor tembaga serta pasokan energi. Dampak terhadap harga energi global sangat tergantung pada perubahan produksi listrik tenaga air, permintaan listrik, serta konsumsi gas alam di sejumlah wilayah.
Berdasarkan penelitian peneliti Dartmouth College, peristiwa El Nino sebelumnya telah menyebabkan kerugian ekonomi global dalam jangka panjang. El Nino tahun 1982-1983, misalnya, diperkirakan menimbulkan kerugian hingga 4,1 triliun dolar AS dalam lima tahun, sementara kejadian serupa pada 1997-1998 mengakibatkan kerugian sekitar 5,7 triliun dolar AS. Untuk El Nino pada 2023 saja, kerugian hingga 2029 diprediksi mencapai 3 triliun dolar AS. Jika dijumlahkan, seluruh fenomena El Nino abad ke-21 diperkirakan menimbulkan kerugian total sebesar 84 triliun dolar AS.
Dampak El Nino juga terlihat pada sektor logistik, di mana kekeringan menyebabkan jumlah kapal yang melintasi Terusan Panama turun dari 36 menjadi 24 per hari. Hal ini menunjukkan gangguan signifikan pada rantai pasok global. Kerugian produksi, kenaikan biaya pengiriman dan energi, serta kenaikan inflasi konsumen berpotensi memengaruhi kebijakan suku bunga, keuntungan perusahaan, dan keuangan publik, sehingga menjadi guncangan pasokan dan pendapatan yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi global selama bertahun-tahun ke depan.
