Komisi Eropa melalui Pusat Penelitian Gabungan merilis buletin MARS edisi Agustus yang memuat perkembangan serta proyeksi hasil pertanian di Eropa. Laporan tersebut menunjukkan bahwa sistem tekanan tinggi yang menetap sejak awal Juli hingga pertengahan Agustus menghambat pembentukan awan dan hujan. Akibatnya, gelombang panas yang berulang menyebabkan penguapan air tanah melampaui asupan air dari hujan, menjadikan kekeringan semakin parah pada paruh pertama Agustus.

Di wilayah Barat, Barat Daya, hingga bagian selatan kawasan Eropa Tengah, suhu harian rata-rata tercatat melampaui normal musim hingga 4 derajat Celsius. Sementara di beberapa daerah di Prancis, kenaikan suhu mencapai 6 derajat di atas rata-rata. Kondisi suhu tinggi dan kekurangan air tidak hanya memperlambat pertumbuhan hasil panen musim panas, tetapi juga menyebabkan tanaman mengalami pengeringan lebih awal. Di tingkat Uni Eropa, hasil kedelai per hektare diperkirakan turun 14 persen dibanding rata-rata lima tahun terakhir, jagung silase menurun 12 persen, dan jagung biji turun 7 persen.

Penurunan hasil panen juga diproyeksikan terjadi pada kentang sebesar 6 persen, bit gula 5 persen, serta bunga matahari 3 persen. Cuaca panas dan kering berimbas signifikan pada produktivitas padang rumput dan lahan penggembalaan, sehingga memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan pakan ternak. Sementara itu, di Prancis yang tengah mengalami salah satu musim panas terpanas dalam 20 tahun terakhir dan musim kemarau terparah setelah 2022, estimasi hasil panen seluruh tanaman musim panas diperkirakan berada pada kisaran 7 hingga 30 persen di bawah rata-rata lima tahun terakhir.