Politikus ekstrem kanan asal Flandria, Filip Dewinter, menuai sorotan setelah membuat pernyataan kontroversial di media sosial usai pertandingan sepak bola yang berlangsung di Stadion Bosuilstadion, Antwerp, Belgia. Dalam unggahannya, Dewinter mengaitkan kekalahan tim dengan narasi berbau Islamofobia, yang memicu kritik keras di kalangan masyarakat dan pengamat politik.
Pernyataan Dewinter dinilai sengaja menargetkan komunitas Muslim di wilayah Flandria serta dianggap bertujuan memelihara rasa ketakutan dan ancaman budaya di tengah masyarakat. Sejumlah pihak menilai, taktik ini kerap digunakan oleh kelompok ekstrem kanan untuk menggalang dukungan lewat isu xenofobia dan membangun krisis buatan, yang pada akhirnya dapat merusak kerukunan serta keutuhan masyarakat yang multikultural di Belgia.
Sikap lembaga Uni Eropa terkait ujaran kebencian dan aksi provokatif yang dinilai merusak nilai-nilai demokrasi, turut menjadi sorotan. Meski Uni Eropa menyatakan komitmennya terhadap perlindungan hak asasi manusia dan prinsip-prinsip demokrasi, muncul pertanyaan di publik mengenai mengapa belum terlihat langkah tegas untuk menghadapi meningkatnya retorika ekstrem kanan dan rasisme di negara-negara anggota.
