Fenomena suhu ekstrem dan kekeringan yang melanda sejumlah negara Eropa berdampak signifikan terhadap penurunan volume air di sungai-sungai besar, seperti Sungai Rhine, Elbe, dan Danube. Kondisi ini memicu penurunan hasil pertanian serta peningkatan biaya transportasi, sehingga turut berkontribusi terhadap kenaikan harga di berbagai sektor.
Menurut analisis dari RWI Institut Penelitian Ekonomi, berkurangnya beban angkut kapal di sungai-sungai utama Eropa menyebabkan lonjakan biaya pengiriman per ton. Hal ini berdampak langsung terhadap distribusi produk energi, seperti bahan bakar diesel dan minyak pemanas, yang pada akhirnya membebani konsumen dengan harga yang lebih tinggi.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) melaporkan bahwa harga pangan global saat ini tercatat sekitar 30 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2020. Sejumlah penelitian terbaru menyimpulkan, perubahan iklim dan cuaca ekstrem, ditambah dengan gangguan pasokan akibat konflik di Ukraina dan Iran serta fluktuasi harga minyak dan gas alam, telah memperparah tekanan inflasi di Eropa.
Laporan yang dirilis oleh Bank Sentral Eropa bersama lima lembaga riset pada Juli 2025, memperingatkan bahwa kejadian cuaca ekstrem dapat membuat harga pangan semakin tidak stabil. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan bank sentral dalam menjaga stabilitas harga.
Bank Sentral Eropa juga mengingatkan bahwa fenomena cuaca ekstrem dapat memperbesar disparitas inflasi antarnegara di kawasan euro. Pada Juli, laju inflasi tercatat 8,2 persen di Rumania, 0,3 persen di Swedia, dan 2,8 persen di Jerman, sementara rata-rata inflasi Uni Eropa berada di angka 3 persen.
Torsten Schmidt, peneliti RWI, menyatakan bahwa kenaikan harga yang hanya dipicu oleh faktor cuaca mungkin tidak perlu direspons dengan kebijakan moneter yang lebih ketat. Namun, jika tekanan inflasi bersifat permanen akibat kenaikan harga energi dan krisis lainnya, maka situasinya bisa menjadi berbeda.
Sementara itu, Asosiasi Bank Tabungan dan Sistem Pembayaran Jerman menekankan pentingnya ekonomi membangun cadangan stok lebih tinggi sebagai antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan di masa mendatang.
