Biro Statistik Belanda (CBS) melaporkan bahwa harga jual produk perusahaan industri di negara tersebut pada Juni mengalami kenaikan 4,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini menjadi yang keempat secara berturut-turut, menandakan tren peningkatan harga produsen di Belanda.
Lonjakan harga tersebut sebagian besar dipicu oleh meningkatnya harga minyak mentah akibat pecahnya konflik baru-baru ini. Berdasarkan data CBS, harga satu barel minyak Brent Laut Utara pada Juni melesat lebih dari 20 persen dibandingkan tahun lalu. Pada Mei, kenaikannya bahkan mencapai 56 persen secara tahunan. Sebaliknya, pada Februari—sebelum konflik terjadi—harga minyak masih tercatat 18 persen lebih murah dari tahun sebelumnya. Perubahan harga minyak ini berdampak signifikan terhadap harga produk di industri kimia dan sektor perminyakan. Produk industri perminyakan pada Juni mengalami kenaikan harga sebesar 27 persen secara tahunan, sementara produk industri kimia naik 17 persen.
Meski demikian, laju kenaikan harga jual industri pada Juni cenderung melambat dibandingkan pada Mei, di mana kenaikannya tercatat sebesar 5,9 persen secara tahunan. Dibandingkan bulan sebelumnya, harga jual produk industri pada Juni justru menurun 1,1 persen. Penurunan ini terjadi seiring berkurangnya kecepatan kenaikan harga minyak. Baik penjualan dalam negeri maupun ekspor sama-sama mengalami penurunan harga sebesar 1,1 persen pada bulan tersebut.
